Aku Bukan Alina

Aku tidak tahu engkau sedang berbicara tentang apa. Tulisanmu sulit kupahami.

Benar, aku tidak ada minat. Mengapa lagi engkau masih berusaha? Untuk apa kau memaksa? Sudahlah, engkau tak perlu berharap ataupun menungguku.

Kumohon engkau tahu diri. Jangan lagi kau menulis fiksi aneh tentang diriku. Aku tidak tertarik melihatmu meracau. Aku tidak dapat mengikuti cerita buatanmu. Aku bukan siapa-siapa untukmu, begitu pula sebaliknya.

Tan, aku bukan Alina, dan engkau bukan Sukab. Kau tidak perlu menyusulku ke ujung dunia; aku tidak berada di sana.

Mares, 5 November 2016

Aku Sukab

Apabila engkau bertanya bagaimana hatiku ketika kau memutuskan untuk bersamaku, aku juga ingin bertanya dengan apa aku harus menjawabnya. Kata-kata lumpuh terhadap dirimu. Kata-kata tidak mampu menggambarkan apa yang terjadi dalam diriku. Kata-kata pula tidak memiliki daya untuk menyampaikan apa yang kumaksud. Juga ia tidak dapat mengartikan apalah aku ini bagimu.

Aku hanya orang yang tak tahu diri yang hadir dalam hidupmu meski sebenarnya engkau tak berminat. Ya, aku tahu engkau tak ada minat, tapi aku tetap melanjutkannya karena aku tidak tahu diri. Aku orang yang tidak tahu diri terhadap kebaikanmu hingga kau tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa kepadaku waktu itu.

Suatu ketika aku cukup tahu diri untuk mundur dan melepasmu, namun aku kembali lagi menjadi diriku yang bebal. Hanya seperti itu dan berulang-ulang hingga aku lelah karena kebodohanku sendiri. Seperti biasa, kau biarkan aku menjadi sebodoh-bodohnya aku. Dengan kedunguanku, aku berharap mendapatkan penjelasan darimu mengenai hatimu, tapi apalah aku ini bagimu. Penjelasan darimu saja aku tidak berhak menerimanya.

Tetiba di pucuk lelahmu, kau datang meminta izin untuk mendekat kepadaku. Apapun maksudmu aku tidak paham dan hanya membuat sakit kepala. Aku susah tidur hanya untuk menebak maksudmu karena aku tidak ingin menjadi tidak tahu diri lagi.

Apabila engkau bertanya bagaimana hatiku ketika kau memutuskan untuk bersamaku, haruskah aku menjawabnya? Hatimu yang tiba-tiba berbalik arah untuk menemuiku merupakan hal yang tidak mungkin. Entah bagaimana justru terjadi.

Jika kau masih bertanya lagi dan meminta jawaban yang mendekati, maka berkenalanlah dengan Sukab sang pemotong senja. Bertanyalah padanya tentang hatinya apabila Alina datang mencintainya.

Engkaulah Alina-ku. Tidak ada hal yang kurindu selain bersama Alina. Aku mencintaimu, Alina. Aku akan pergi menemuimu di ujung dunia.

Ditulis berdasarkan karya Seno Gumira A., Sepotong Senja untuk Pacarku.
Dibuat untuk Alina-ku.

Buta

Teruntuk kau yang membuatku tak dapat menulis

Kali ini kalimatku tidak mungkin indah
Untuk apa juga? Aku memang tidak bisa
Setahun masanya aku jadi tuna
Yang kehilangan ratusan kalimatnya

Kau keterlaluan seperti tuna-tuna lain
Tapi karena aku gila, aku tidak lihat lain
Setelah terlewat, aku menanyaimu
Memang apa sih istimewamu?

Kampret.

Pati, 3 September 2016

Layang-layang

Layang-layang
Seorang anak kecil berlari
Mengejar layang-layang
Yang putus dan mengikuti angin
Terengah menahan lelah

Keringat dingin dan napas sesak
Perasaan sedih dan tak berdaya
Lunglai saat ia berhenti berlari
Kehilangan yang diinginkannya

“Mengapa semua yang kukejar pergi?”
Tanyanya sambil sakit hati
Mengingat kejadian yang terlalu sering
Menangis untuk berusaha memahami

Suatu pagi ia bersenang hati
Berlari ia dengan ringan
Menyongsong layang-layang putus lain
Yang terjatuh di depan matanya

Ada waktu nanti baginya
Untuk relakan apa saja yang pergi
Untuk menerima semua yang kembali
Karena yang kembali adalah miliknya

Depok, 10 Februari 2016