Nantinya

Kami manggut-manggut. Kami tahu kau sangat hebat. Kau berjalan dari pinggiran hingga sampai di sana. Tapi sungguh, menurutku orang hebat pun tetap keliru. Kujanjikan pada ibuku kudapat menemukan yang lain: yang lebih sedikit kekeliruannya. Harapan mungkin memang sebatas sangkalan dari kenyataan, dan harapanku memang jahat. Iya, aku orang jahat! Kau berjalan mencari nasi dan kembali, lalu menyadari bahwa kau tak mengenali untuk siapa nasi itu akan kau berikan. Aku masih ingat kata-katamu, “kelakuan sifat lelaki tak mungkin kau rubah,” dan aku percaya itu. Itu adalah nasehat terhebat darimu, yang akan mendukung bahkan menjatuhkanmu. Nantinya setelah aku dapat mengerti yang baik dan yang buruk, aku akan memberikan konsekuensi itu padamu. Tenang saja, aku akan berlaku lembut padamu: yang kau dapat adalah yang kau beri. Maaf untuk semua kelancangan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s