Peradaban, Kebudayaan, dan Perkawinan

Aku bertanya-tanya sejak kapan menikah menjadi keniscayaan bagi manusia dan peradabannya. Mungkin, sejak kebudayaan manusia membatasi siapa yang boleh dan dengan siapa seseorang boleh bersenggama–yang secara sadar maupun tidak, merupakan upaya mengontrol jumlah manusia: Pernikahan merupakan suatu mekanisme agar populasi manusia tidak mudah melejit. Dan akhirnya, manusia terikat di dalamnya sehingga jikalau mereka tidak menikah, mereka akan cenderung dianggap berbeda dengan suatu kewajaran. Jangan heran jika kini motivasi menikah seseorang adalah untuk melakukan senggama secara legal/sah/halal/wajar.

Advertisements

3 thoughts on “Peradaban, Kebudayaan, dan Perkawinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s