Sekolah

Setiap warganegara berhak mendapatkan pendidikan

Nyaris setiap hari Aku mendatangi bangunan ini. Aku harus memasuki ruangan tertentu, duduk bersama orang tertentu, mendengarkan dan menjalankan perintah tertentu oleh orang tertentu yang duduk di muka. Bangunan ini konon merupakan bengunan yang didirikan berdasarkan ketetapan pemerintah. Dengar-dengar, di seluruh penjuru nusantara ini, orang-orang dapat menjumpai bentuk bangunan yang sama persis, bahkan ukuran kusennya pun sama.

Di sinilah Aku dan teman-temannya (dipaksa) mempelajari berbagai macam hal yang katanya bersifat mendasar. Di sini juga tempat mereka mempelajari berbagai hal yang diklaim sebagai kebenaran di saat mereka belum mampu berpikir dalam cakrawala yang luas.

“Seperti yang sudah dipaparkan di dalam LKS tentang kisah Nabi Isa, orang-orang Kristen itu salah. Isa itu nabi, tapi mereka menganggapnya sebagai Tuhan. Masa manusia disembah?! Oleh sebab itu, kalau ada orang Kristen mengucapkan assalamu’alaikum, kita menjawabnya dengan wa’alaikumsam yang artinya celakalah kau”, Terang Pak Gari, guru pelajaran Agama Islam.

Bocah-bocah ingusan dan sedikit kudisan itu hanya diam mendengarnya. Tuding, atau bilah bambu senjata guru, akan melayang bila mereka berisik. Beberepa di antara mereka mencoba merekam pengajaran gurunya itu dalam otak mereka, beberapa yang lain sudah pasrah melamun entah apa. Adalah keniscayaan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang mempertanyakan kembali ajaran gurunya itu.

Inilah SD inpres peninggalan Pak Harto, tempat anak sejuta umat dapat mengenyam pendidikan dasar. Gedung, bangku, seragam, beberapa fasilitas lain, dan kurikulum semuanya serupa. Bahkan Aku dan teman-temannya harus menyampul buku tulis mereka dengan kertas berwarna coklat supaya serupa, tidak menimbulkan keirian, dan mungkin supaya mereka tidak terganggu dengan motif atau gambar artis F4 di sampul asli buku. Bagi Aku, alasan terakhirlah yang paling masuk akal.

Aku adalah tokoh dalam kisah ini. Aku bukan berarti aku, dan bukan juga berarti kamu. Kisah ini adalah nyata sejauh engkau menganggapnya demikian. Kisah ini hanyalah fiksi bila engkau menghendaki demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s